Sunday, December 4, 2011

Shocked therapy dari Mba'e


weekend kemarin sepertinya terlewat dengan perasaan tidak enak untuk saya. Tadinya saya sudah rencanakan berbagai hal di weekend tgl 3-4 Des 2011. Tetapi semuanya buyar karena mendengar kabar berita mbak sesaat sebelum mbak pulang ke rumahnya (yups, one of my weaknesses is when i heard some bad news, suddenly i lost my plan I have planned :( ). Oke saya jelaskan dulu bahwa yang dimaksud  mba'e=mbak disini adalah pengasuh syila.

Sore itu mbak mau pamit pulang, seperti biasa dilakukannya ketika weekend. Tiba-tiba mbak duduk disamping saya dan bilang "bu, kulo nuwun matur. Nuwun sewu kulo badhe mulih kampung tanggal 22 desember trus mboten mulih maleh  mriki. Nuwun sewu atas segala kelepatan kulo ting mriki" (terjemahan: Bu saya mau bilang. Mohon maaf saya akan pulang kampung tanggal 22 desember dan ga pulang lagi ke sini. Mohon maaf atas segala kesalahan saya waktu disini).
ini dia mba wati ^^


Sesaat saya dan suami yang sedang duduk santai diam. Bingung mau bilang apa. Kemudian saya balik nanya "mbak yakin? ada apa mbak koq mau pulang". "Mboten nopo-nopo bu, badhe nyusul anak mawon. Mboten wonten opo-opo"( terjemahan: ga ada apa-apa bu, mau nyusul anak aja. Tidak ada apa-apa). Percakapan kami berlanjut, mbak minta supaya saya siap-siap cari pengganti yang baru. Kemudian setelah itu beliau pulang, menutup pintu rumah kami.

Saya dan suami diam sesaat, masih merasa apa yang dikatakan mbak wati (nama pengasuh tersebut) hanya mimpi di siang bolong. Kami saling memandang masih dalam muka tidak percaya. Jujur saya lemas sekali, mengingat pengasuh ini sudah 8 bulan sejak dia masuk. Saya dapat mbak wati ini setelah lama megantar jemput syila di rumah mertua saya. selama bekerja, saya merasa cocoks ama mbak wati ini. Mbake orang yang penyayang, sabar dan pekerjaan apapun beres karena ikut bantu-bantu saya nyetrika dan beberes rumah. Meski ada beberapa kekurangan tetapi saya dan suami tetap bisa memaklumi keadaaan tersebut.

Kejadian pamitnya mbak e ini membuat kami tersadar, betapa kami sangat membutuhkan mbak wati. Ada rasa kehilangan yang besar, malemnya saya sampai nangis  (agak lebay c mohon dimaklumi  -__-"). Tangisan ini lebih karena akan sulit mencari pengganti dengan kualitas level kayak mbak wati plus kami sudah menganggap mbak sebagai saudara kami. Saya memang sedikit parno menitipkan anak saya ke pengasuh mengingat banyaknya kabar miring mengenai pengasuh-pengasuh yang suka menyiksa anak hiks hiks. Saya sampai berpikir bagaimana kalau saya keluar dari pekerjaan untuk mengurus syila dengan konsekuensi akan didenda dengan jumlah yang buanyak buanget (dan sepertinya ini opsi terakhir karena saya masih terikat dinas kerja dengan instansi saya, belum lagi banyak sekali yang menentang rencana "aneh" ini dimana mereka menganggap pekerjaan ini menjanjikan). 

Saya sendiri masih berikhtiar untuk sampai sekarang untuk mencari pengganti mbake dengan target sebelum tanggal 22 Des 2011. Semoga Allah memudahkan langkah kami, memberikan yang terbaik untuk keluarga kami. Dan semoga mbak wati juga dapat berkumpul dengan anaknya di kampung setelah sekian lama jauh terpisah, saya paham skali perasaanmu mbak, karena kita sama-sama seorang ibu T.T.  I hope everythings gonna be well. it'll never be the same again, of course i know it. But maybe this is the best way for my family and for mba wati, to get better life. May Allah always bless us. amiin.

love,

Ika

No comments:

Post a Comment